Oleh: shuntoro | Maret 30, 2008

THE LEGEND NEVER DIE …..GIE

GIE LEBIH BAEK DI ASINGKAN DARIPADA MENYERAH PADA KEMUNAFIKAN

 Soe Hok Gie dibesarkan di sebuah keluarga  yang tidak begitu kaya dan berdomisili di Jakarta. Sejak remaja,Gie sudah mengembangkan minat terhadap konsep-konsep idealis yang dipaparkan oleh intelek-intelek kelas dunia. Semangat pejuangnya, setiakawannya, dan hatinya yang dipenuhi kepedulian sejati akan orang lain dan tanah airnya membaur di dalam diri Hok Gie kecil dan membentuk dirinya menjadi pribadi yang tidak toleran terhadap ketidakadilan dan mengimpikan Indonesia yang didasari oleh keadilan dan kebenaran yang murni. Semangat ini sering salah dimengerti orang lain. Bahkan sahabat-sahabat Hok Gie, Tan Tjin Han dan Herman Lantang bertanya “Untuk apa semua perlawanan ini?”. Pertanyaan ini dengan kalem di jawab GIE dengan penjelasan akan kesadarannya bahwa untuk memperoleh kemerdekaan sejati dan hak-hak yang dijunjung sebagaimana mestinya, ada harga yang harus dibayar, dan memberontaklah caranya. Semboyan Soe Hok Gie yang mengesankan berbunyi, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

Masa remaja Gie dijalani di bawah rezim pelopor kemerdekaan Indonesia Bung Karno, yang ditandai dengan konflik antara militer dengan PKI. Soe dan teman-temannya bersikeras bahwa mereka tidak memihak golongan manapun. Meskipun Hok Gie menghormati Sukarno sebagai founding fath0er negara Indonesia, Hok Gie begitu membenci pemerintahan Sukarno yang diktator dan menyebabkan hak rakyat yang miskin terinjak-injak. Hok Gie tahu banyak tentang ketidakadilan sosial, penyalahgunaan kedaulatan, dan korupsi di bawah pemerintahan Sukarno, dan dengan tegas bersuara menulis kritikan-kritikan yang tajam di media. Soe juga sangat membenci bagaimana banyak mahasiswa berkedudukan senat janji-janji manisnya hanya omong kosong belaka yang mengedoki usaha mereka memperalat situasi politik untuk memperoleh keuntungan pribadi. Penentangan ini memenangkan banyak simpati bagi Hok Gie, tetapi juga memprovokasikan banyak musuh. Banyak interest group berusaha melobi Soe untuk mendukung kampanyenya, sementara musuh-musuh Hok Gie bersemangat menggunakan setiap kesempatan untuk mengintimidasi dirinya.

Tan Tjin Han, teman kecil Hok Gie, sudah lama mengagumi keuletan dan keberanian Soe Hok Gie, Dalam usia berkepala dua, kedua lelaki dipertemukan kembali meski hanya sebentar. Hok Gie menemukan bahwa Tan telah terlibat PKI tetapi tidak tahu konsekuensi apa yang sebenarnya menantinya. Hok Gie mendesak Tan untuk menanggalkan segala ikatan dengan PKI dan bersembunyi, tetapi Tan tidak menerima desakan tersebut.

Hok Gie dan teman-temannya menghabiskan waktu luang mereka naik gunung dan menikmati alam Indonesia yang asri dengan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UI. Selain itu, mereka juga gemar menonton dan menganalisa film, menikmati kesenian-kesenian tradisional, dan menghadiri pesta-pesta.

Film ini menggambarkan petualangan Soe Hok Gie mencapai tujuannya untuk menggulingkan rezim Sukarno, dan perubahan-perubahan dalam hidupnya setelah tujuan ini, GIE adalah salah salah satu pendiri MAPALA UI dan terkenang samapi sekarang ini di dalam FAKULATS UNIVERSITAS INDONESIA, setelah kursi kepimpinan sukarno jatuh kemudian bangkitlah lagi rasis me Suharto sampai tahun 1998 yanmg kemudian di jatuhkan lagi oleh para mahasiswa,

Dan sampai kapan kita akan goyah seperti ini terus kapan INDONESIA akan bangikt jika kita tidak sadar dari diri kita sendiri

Sumber : id-wikipedia.org


Tanggapan

  1. lebih baek hidup terus..
    daripada diasingkan dalam kemunafikkan!

    *nah lho* :D

  2. SOE HOK GIE adalah merupakan sebuah fenomena besar didalam sejarah dunia gerakan kepemudaan di Indonesia terutama gerakan Mahasiswa, dimana Soe Hok Gie adalah seorang tokoh yang mewakili gerakan pemuda pasca angkatan 45 (angkatan 66).

    Tetapi ada suatu fenomena menarik dan kontroversial dari diri Gie (begitu biasa ia dipanggil), yaitu sebenarnya bagaimana kondisi pergulatan pemikiran dan perjuangan dari Gie sendiri? Apakah ia seorang pejuang yang mempunyai idealisme untuk memperjuangkan tegaknya keadilan dan kebenaran bagi rakyat yang tertindas? Ataukah dengan idealismenya yang keras dan berkobar-kobar tersebut justru malah membuat Gie terjebak didalam irama konstelasi politik yang telah diformat sedemikian rapi oleh suatu kolaborasi internasional yang kemudian meruntuhkan kekuasaan Orde Lama untuk kemudian digantikan dengan kekuasaan Orde Baru yang di back up oleh kekuatan negara-negara pemodal?

    Hal tersebut sampai saat ini masih merupakan sebuah misteri besar, mengingat Gie sendiri adalah salah satu tokoh yang menggagas mengenai adanya kemanunggalan militer dengan Rakyat melalui konsep Dwi Fungsinya yang kemudian diselewengkan oleh penguasa Orde Baru untuk sebuah alat legitimasi kekuasaan yang sangat ampuh, bahkan Gie diketahui secara terbuka mendukung petinggi-petinggi militer saat itu untuk duduk di tampuk kekuasaan Orde Baru.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori